Gereja Sebagai Komunitas Shalom
Respons Eklesiologis terhadap Krisis Perdamaian dalam SDG 16
DOI:
https://doi.org/10.62926/jid.v1i1.15Keywords:
gereja, shalom, eklesiologi, perdamaian sosial, SDG 16Abstract
Krisis perdamaian sosial yang ditandai konflik bersenjata, polarisasi politik, korupsi, intoleransi, disinformasi, dan menurunnya kepercayaan publik menunjukkan bahwa perdamaian mencakup kualitas relasi dan kehidupan bersama. Penelitian ini bertujuan menganalisis gereja sebagai komunitas shalom dalam perspektif eklesiologi serta merumuskan kontribusinya terhadap Sustainable Development Goal (SDG) 16. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dan analisis deskriptif-interpretatif terhadap Alkitab, dokumen SDGs, dan literatur ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis perdamaian berakar pada kerusakan relasi yang ditandai menurunnya kepercayaan sosial, pudarnya solidaritas, melemahnya keadilan, dan tergerusnya martabat manusia. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi shalom, eklesiologi, dan SDG 16 dalam satu kerangka teologis yang merumuskan empat respons gereja: rekonsiliasi, keadilan dan solidaritas, dialog dan partisipasi publik, serta pembentukan karakter perdamaian. Kerangka ini memperkuat pemahaman gereja sebagai komunitas iman sekaligus aktor sosial.



